Aku menulis hanya untuk satu alasan, menjaga selalu ingatanku. Karena ketika kita lupa atau tidak ingat sesuatu kita bisa membuka kembali lembaran tulisan yang pernah kita tulis. Melalui tulisan kita bisa berbagi, baik kesedihan maupun kegembiraan. Semua bisa kita ungkapkan lewat tulisan.
Lupa merupakan penyakit yang akan dialami oleh semua manusia. Tetapi itu tidak akan terjadi ketika kita punya tulisan atau catatan. Kita tidak bisa menjadikan lupa atau kondisi tua sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Terlepas dari itu semua, yang ada hanyalahalasan kita saja supaya terhindar dari praduga orang lain atau menghindar dari perasaan bersalah yang mungkin telah kita lakukan.
Aku menulis agar selalu ingatakan kenangan-kenangan atau semua kebahagiaan yang pernah aku dapatkan tapi tidak untuk berbagi kesedihan. Kesedihan itu hanya milik pribadi dan tak pantas untuk dibagikan ke orang lain. Orang tidak perlu tahu seberapa banyak air mata yang telah mengalir. Mereka hanya perlu tahu seberapa banyak senyum dan tawa yang sudah terpancarkan dari kita untuk orang lain. Ketika kita tersenyum dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain itulah keberhasilan terbesarmu. Jangan sampai orang ketakutan melihat wajahmu yang selalu menjadi tanda tanya, apakah kamu sedang dalam kondisi baik atau buruk sehinga orang takut menyapamu.
Ingatan seseorang itu berbeda, ada yang bisa menyebutkan lokasi kejadian, ada yang bisa mengingat tanggal atau nomor, dan ada juga yang bisa mengingat suatu kejadian tertentu. Seperti misalnya, aku ingat ketika bapak itu marah-marah, atau waktu itu orang itu sedang buru-buru mau pergi ke suatu tempat. Kondisi yang berbeda ini bukan suatu kekurangan bahkan mungkin bisa disebut sebagai kelebihan karena gaya mengingat yang unik itu hanya bisa dilakukan dengan unik juga. Supaya gaya unik itu tidak disalah artikan, alangkah baiknya kita tuliskan dalam sebuah buku.
Sebenarnya hal ini juga tidak terlalu efektif karena terkadang buku juga bisa hilang atau tertinggal. Hanya saja kita yang harus sedikit hati-hati, terutama bagi yang suka lupa meletakkkan sesuatu pada tempatnya. Begitu pula ketika kita ingin mengingat seseorang, terkadang kita sering mendeskripsika kondisi tubuh seseorang mulai dari tinggi dan rendahnya, warna kulit, ras, bahasa, dan tak jarang deskripsi dari watak seseorang. Misalnya dengan menyebutkan, itu ibu yang suka tersenyum, itu ibu yang suka marah-marah, atau itu ibu yang suka bercanda atau humoris. Semua itu adalah sifat luar yang bisa tampak pada seseorang. Namun terkadang, itu tidak seutuhnya mewakili gambaran orang yang sedang diingatkarena yang tampak luar belum tentu mendeskripsikan kondisi orang tersebut. Tapi begitulah kita ketika ingin mengingat sesuatu.
Ada istilah,”don‟t judge the book from the cover”, menurut saya statement ini benar adanya. Karena kita sering menilai orang lain dengan melihat sisi luar saja, sehingga sering berandai-andai dan memberikan penilaian langsung dengan melihat apa yang telah ia lakukan sebelum dan sesudahnya. Tetapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa seseorang melakukan itu.Kita tidak pernah tahu dan bahkan tak mau tahu. Bukankah itu namanya egois? Namun itulah yang terjadi. Kita sering memberikan penilaian terhadap orang lain tetapi selalu marah ketika dinilai. Sering memberikan alasan untuk semua kesalahan yang kita lakukan. Dan tak jarang kita akan menjawab, itu wajar dan biasa.Orang yang mendengarnya tidak sepenuhnya menyangkal apa yang kita katakan tapi mereka bisa membuat penilaian terhadap kita. Kita tidak bisa menyalahkan mereka ketika mereka mulai berasumsi dan menilai. Ketika itu terjadi, sulit bagi kita untuk kembali meluruskan keadaan.
Dengan demikian akan terdengarlah ucapan kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari kemarin.Kami sudah terlanjur terluka dengan ucapan yang pernah terucapkan. Hati kami sudah terlanjur tergores. Ibarat luka bisa sembuh ketika diobati, namun tidak untuk bekas luka yang pernah ada. Untuk menghilangkan bekas luka itu kita butuh 1 bulan, bahkan mungkin satu tahun baru ia benar-benar hilang. Namun proses yang panjang itu butuh kesabaran dan keikhlasan yang mungkin tidak ada pada semua orang. Intinya adalah bagilah semua kebahagian yang kamu miliki dan berikan semua senyum dan tawamu untuk semua orang sehingga orang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kamu sembunyikan pada senyum dan tawamu.